Kedai BAKSO SABILI

Kedai BAKSO SABILI
Jl. Ciwastra 187 Buah Batu Bandung

ARTI LOGO VOLVO

Tahu kah anda tentang sejarah dan arti dari Logo Volvo?

Dimulai pada bulan Agustus 1926, ketika pabrik laker/bearing swedia Svenska Kullagerfabriken – SKF – mengactivekan kembali perusahaan yg telah didirikan sejaka 1920 memprodusi mobil.
Nama VOLVO sendiri sudah diciptakan sejak oleh para petinggi SKF untuk salah satu produk bearing/mereka untuk industri otomotif.

VOLVO - simple, kelihatan gagah dan mudah untuk diucapkan


Berasal dari kata latin "VOLVERE" yg berarti "roll" atawa menggelinding, berputar. Dalam bentuk kata kerja tunggal orang pertama kata "volvere" berubah menjadi "VOLVO"
Sesuai dg kegiatan SKF yg memproduksi barang berputar "bearing/lakhër"

Pada waktu yg sama ketika VOLVO diaktifkan kembali, symbol "besi" pada jaman kuno dipakai sebagai symbol.
Lingkaran dg panah menunjuk keatas pada sisi kanan adalah ideogram yg umum digunakan di negeri barat sebagai simbol planet Mars di jaman Romawi, sekaligus sebagai dewa perang mereka.

Symbol Dewa Perang Romawi.
Image

Symbol Volvo pada awal berdiri
Image

Symbol besi mobil berarti mempresentasikan tradisi terhormat Swedia di bidang industry besi serta sebagai symbol kekuatan dg tidak meninggalkan keamanan (safety).

Pada perkembangannya symbol besi Volvo dilengkapi dg garis diagonal didepan radiator mobil serta bertebaran dimana mana termasuk di steering wheel (sopiran) dan as roda

semenjak th.1999 Volvo Car Company (divisi mobil) dijual oleh pemiliknya yaitu AB VOLVO ke Ford Motor Company, namun symbol volvo tetap milik AB volvo yg memproduksi comercial vehicle sampai sekarang.

Symbol / Logo VOLVO Sekarang
Image

History of the Volvo Car

Volvo, Latin for "I roll", was born on April 14th, 1927 when the first car "Jakob" left the factory in Gothenburg, Sweden.

Founded by Assar Gabrielsson and Gustaf Larsson, the company was formed on a background of quality and safety which were both of paramount importance, a concept that still applies to the Volvo cars of today.

The fledgling company produced both closed top and cabriolet models of their new four-cylinder OV4 and PV4 models, which were constructed to better withstand the harsh Swedish climate, than contemporary US imports. Both carried the Swedish symbol for iron attached to a diagonal piece if metal on the front grille – another aspect of Volvo’s heritage that can still be seen on today’s models.


In 1929 a six-cylinder PV651 model had been introduced which was both longer and wider than the Jakob. Its success helped the company to purchase its engine supplier and buy its first factory and by the end of 1931 return it’s first dividend to shareholders.

The first production milestone of 10,000 Volvo’s was reached in May 1932 and it was not long before Volvo dealers were asking the company to develop a more inexpensive car "for the people". This was the PV 51 model of 1936, similar to the more expensive PV36 in design, but smaller in size and less well equipped.

The Second World War significantly restricted Volvo’s production of cars, but by the autumn of 1944 the company had unveiled one of its most significant cars – the PV444. Volvo’s first "true" small car, its stylish design combined American flair with European size and it was an instant success. The PV444 and the PV544 would dominate Volvo production through to the mid 1960’s and be the first models to gain Volvo a slice of the important US market during the 1950’s.

Another popular model was the Volvo 120 introduced in 1956 and often called the Amazon.

Safety features and accident protection were a key factor in this cars design and this was enhanced even further in 1959 when both the Amazon and PV544 were equipped with three-point safety belts – a world first and an invention pioneered by Volvo’s head of safety engineering, Nils Bohlin.

Volvo’s first sports car was the P1800, unveiled in 1960. Considered to be an excellent touring car with it’s sleek coupe lines, the P1800 went on to find fame in "The Sain" TV series with Roger Moore behind the wheel.

By 1964 Volvo had opened a new production plant in Torslanda, Sweden capable of producing up to 200,000 cars a year and by 1966 the Volvo 140 family was introduced firstly as a saloon and later as an estate, helping to cement a family market that Volvo was rapidly claiming as its own.

Innovations in safety and environmental care continued apace with crumple zones, rear facing child seats, collapsible steering columns, side collision protection and the three-way catalytic converter with Lambdasond all being introduced on Volvo’s in the late 1960’s and early 1970’s.

The Volvo 240 range replaced the 140 with even higher levels of safety and quality and was joined by the smaller Volvo 340 models from Holland to take Volvo’s sales past the 4 million mark by the end of the 1970’s.

In turn the Volvo 700 series of 1982 took Volvo yet another step into the exclusive market for personalised high-quality cars. Later in the decade the 340 was replaced by the Volvo 400 series which won plaudits for its roadholding and safety as well as its generous amount of interior space.

A completely new and different Volvo was launched to the world in June 1991. The Volvo 850 was Volvo’s first front wheel drive executive car, with a transverse, five-cylinder engine. Its high level of safety combined with real driving pleasure won the car many independent awards.

The proposed merger with Renault fell through in its final stages in 1993 leaving Volvo as one of the few remaining independent car manufacturers. This marked a key turn in the company’s plans and paved the way for Volvo’s new dynamic product strategy with the introduction in 1996 of the sleek and more rounded designs of the Volvo S40 and V40.

They, like the Volvo C70 coupe and convertible that were introduced later that year, were cars that combined all of Volvo’s traditional values of safety, environmental care with sporty, elegant and exciting design and engineering.

With the Volvo S80 sedan of 1998 and the V70 wagon of 1999, all of this new engineering and design was brought together in a cars that both Gustaf Larson and Assar Gabrielson would have recognised as Volvo’s that represented their wishes for safe, quality products, but that can hold a fascination and desire for customers in today’s sophisticated car market.


sumber : www.volvoclub.org.uk

Flu Burung Ternyata Rekayasa Senjata Biologi AS & WHO


Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari (59) bikin gerah World Health
Organization (WHO) dan Pemerintah Amerika Serikat (AS).

Fadilah berhasil menguak konspirasi AS dan badan kesehatan dunia itu dalam
mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, Avian influenza (H5N1).

Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusaha an dari
negara maju memproduksi vaksin lalu dijual ke pasaran dengan harga mahal di
negara berkembang, termasuk Indonesia .



Fadilah menuangkannya dalam bukunya berjudul Saatnya Dunia Berubah! Tangan
Tuhan di Balik Virus Flu Burung.

Selain dalam edisi Bahasa Indonesia, Siti juga meluncurkan buku yang sama
dalam versi Bahasa Inggris dengan judul It's Time for the World to Change.

Konspirasi tersebut, kata Fadilah, dilakuakn negara adikuasa dengan cara
mencari kesempatan dalam kesempitan pada penyebaran virus flu burung.

"Saya mengira mereka mencari keuntungan dari penyebaran flu burung dengan
menjual vaksin ke negara kita," ujar Fadilah kepada Persda Network di
Jakarta , Kamis (21/2).

Situs berita Australia , The Age, mengutip buku Fadilah dengan mengatakan,
Pemerintah AS dan WHO berkonpirasi mengembangkan senjata biologi dari
penyebaran virus avian H5N1 atau flu burung dengan memproduksi senjata
biologi.

Karena itu pula, bukunya dalam versi bahasa Inggris menuai protes dari
petinggi WHO.

"Kegerahan itu saya tidak tanggapi. Kalau mereka gerah, monggo mawon. Betul
apa nggak, mari kita buktikan. Kita bukan saja dibikin gerah, tetapi juga
kelaparan dan kemiskinan. Negara-negara maju menidas kita, lewat WTO, lewat
Freeport , dan lain-lain. Coba kalau tidak ada kita sudah kaya," ujarnya.

Fadilah mengatakan, edisi perdana bukunya dicetak masing-masing
1.000eksemplar untuk cetakan bahasa
Indonesia maupun bahasa Inggris. Total sebanyak 2.000 buku.

"Saat ini banyak yang meminta jadi dalam waktu dekat saya akan mencetak
cetakan kedua dalam jumlah besar. Kalau cetakan pertama dicetak penerbitan
kecil, tapi untuk rencana ini, saya sedang mencari bicarakan dengan
penerbitan besar," katanya.

Selain mencetak ulang bukunya, perempuan kelahiran Solo, 6 November 1950,
mengatakan telah menyiapkan buku jilid kedua.

"Saya sedang menulis jilid kedua. Di dalam buku itu akan saya beberkan semua
bagaimana pengalaman saya. Bagaimana saya mengirimkan 58 virus, tetapi saya
dikirimkan virus yang sudah berubah dalam bentuk kelontongan. Virus yang
saya kirimkan dari Indonesia diubah-ubah Pemerintahan George Bush," ujar
menteri kesehatan pertama Indonesia dari kalangan perempuan ini.

Siti enggan berkomentar tentang permintaan Presiden Susilo Bambang
Yudhoyonoyang memintanya menarik buku dari peredaran.

"Bukunya sudah habis. Yang versi bahasa Indonesia , sebagian, sekitar 500
buku saya bagi-bagikan gratis, sebagian lagi dijual ditoko buku. Yang bahasa
Inggris dijual," katanya sembari mengatakan, tidak mungkin lagi menarik buku
dari peredaran.

Pemerintah AS dikabarkan menjanjikan imbalan peralatan militer berupa
senjata berat atau tank jika Pemerintah RI bersedia menarik buku setebal 182
halaman itu.

Mengubah Kebijakan

Apapun komentar pemerintah AS dan WHO, Fadilah sudah membikin sejarah dunia.

Gara-gara protesnya terhadap perlakuan diskriminatif soal flu burung, AS dan
WHO sampai-sampai mengubah kebijakan fundamentalnya yang sudah dipakai
selama 50 tahun.

Perlawanan Fadilah dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di
Indonesia pada 2005.

Majalah The Economist London menempatkan Fadilah sebagai tokoh pendobrak
yang memulai revolusi dalam menyelamatkan dunia dari dampak flu burung.

"Menteri Kesehatan Indonesia itu telah memilih senjata yang terbukti lebih
berguna daripada vaksin terbaik dunia saat ini dalam menanggulangi ancaman
virus flu burung, yaitu transparansi, " tulis The Economist.

The Economist, seperti ditulis Asro Kamal Rokan di Republika, edisi pekan
lalu, mengurai, Fadilah mulai curiga saat Indonesia juga terkena endemik flu
burung 2005 silam.

Ia kelabakan. Obat tamiflu harus ada. Namun aneh, obat tersebut justru
diborong negara-negara kaya yang tak terkena kasus flu burung.

Di tengah upayanya mencari obat flu burung, dengan alasan penentuan

diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating Center (WHO CC) di Hongkong
memerintahkannya untuk menyerahkan sampel spesimen.

Mulanya, perintah itu diikuti Fadilah. Namun, ia juga meminta laboratorium

litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi, mengapa WHO

CC meminta sampel dikirim ke Hongkong?

Fadilah merasa ada suatu yang aneh. Ia terbayang korban flu burung di
Vietnam . Sampel virus orang Vietnam yang telah meninggal itu diambil dan
dikirim ke WHO CC untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian
dibuat bibit virus.

Dari bibit virus inilah dibuat vaksin. Dari sinilah, ia menemukan fakta,
pembuat vaksin itu adalah perusahaan-perusaha an besar dari negara maju,
negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam , negara korban, kemudian menjualnya ke
seluruh dunia tanpa izin. Tanpa kompensasi.

Fadilah marah. Ia merasa kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat
negara-negara tak mampu telah dipermainkan atas dalih Global Influenza
Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah
menjalani praktik selama 50 tahun. Mereka telah memerintahkan lebih dari 110
negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak.

Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memprosesnya menjadi
vaksin.

Di saat keraguan atas WHO, Fadilah kembali menemukan fakta bahwa para
ilmuwan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5N1 yang disimpan WHO CC.

Data itu, uniknya, disimpan di Los Alamos National Laboratoty di New Mexico ,
AS.

Di sini, dari 15 grup peneliti hanya ada empat orang dari WHO, selebihnya
tak diketahui.

Los Alamos ternyata berada di bawah Kementerian Energi AS.

Di lab inilah duhulu dirancang bom atom Hiroshima . Lalu untuk apa data itu,
untuk vaksin atau senjata kimia?

Fadilah tak membiarkan situasi ini. Ia minta WHO membuka data itu. Data DNA
virus H5N1 harus dibuka, tidak boleh hanya dikuasai kelompok tertentu.

Ia berusaha keras. Dan, berhasil. Pada 8 Agustus 2006, WHO mengirim data
itu. Ilmuwan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos ,
memujinya.

Majalah The Economist menyebut peristiwa ini sebagai revolusi bagi
transparansi. Tidak berhenti di situ. Siti Fadilah terus mengejar WHO CC
agar mengembalikan 58 virus asal Indonesia , yang konon telah ditempatkan di
Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologi Pentagon.

Ini jelas tak mudah. Tapi, ia terus berjuang hingga tercipta pertukaran
virus yang adil,

transparan, dan setara.

Ia juga terus melawan dengan cara tidak lagi mau mengirim spesimen virus
yang diminta WHO, selama mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik
dan membahayakan dunia.

Dan, perlawanan itu tidak sia-sia. Meski Fadilah dikecam WHO dan dianggap
menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang Pertemuan Kesehatan
Sedunia di Jenewa Mei 2007, International Government Meeting (IGM) WHO di
akhirnya menyetujui segala tuntutan Fadilah, yaitu sharing virus disetujui
dan GISN dihapuskan.

sumber: Bukunya Menkes Fadilah Bikin Gerah AS-WHO


Tips Mengatasi Luka Bakar

Anda mengalami luka bakar? Baiknya jangan gegabah mengatasi luka akibat terkena api atau benda panas ini. Cedera pada jaringan kulit ini juga tak bisa dijadikan hal yang sepele.

Luka bakar di lapisan permukaan kulit bisa terasa lebih sakit daripada luka bakar dalam. Pada luka bakar dalam biasanya kulit sudah berubah warna menjadi putih dan bentuknya dan terasa tidak sakit. Sedangkan luka bakar pada permukaan kulit biasanya menyebabkan kulit berwarna kemerahan dan rasanya sakit sekali. Maka yang harus Anda lakukan adalah:


1. Begitu terkena benda atau cairan panas langsung singkirkan pakaian di sekitar luka bakar. Lakukan sesegera mungkin jangan sampai benda atau cairan panas itu mengenai pakaian yang lelehannya bisa jatuh ke kulit Anda.

2. Segera basuh luka dengan air dingin. Kira-kira selama 15 menit atau lebih sampai luka terlihat lebih baik. Hal ini untuk mendinginkan luka sebelum terkena obat. Kompres luka dengan kain kasa. Jangan gunakan kapas atau bahan lain yang sekiranya bisa menempel di kulit.

3. Anda sering melakukan pertolongan pertama dengan menggunakan odol? Mulai sekarang jangan lakukan hal tersebut. Hindari odol, mentega atau salep apapun karena salah-salah luka Anda akan makin parah. Air dingin cukup untuk meredakan nyeri luka bakar.

4. Segeralah periksakan luka bakar ke dokter untuk menghindari infeksi bakteri. Jika Anda terinfeksi bakteri, setelah mengalami luka tersebut Anda akan demam, radang dan luka Anda mengeluarkan nanah.

5. Luka bakar yang cukup serius sebaiknya langsung Anda bawa saja ke dokter atau rumah sakit. Karena bisa-bisa jaringan kulit Anda akan rusak dan merusak sistem kerja tubuh lainnya. Secepatnya Anda harus mendapatkan perawatan intensif.

Sumber: Syntia, dechacare.com


Mana Yang Lebih Hebat???

Kakek meletakkan surat kabar yang ia baca, kemudian menatapku melewati
kaca mata plusnya yang tebal.

"Apa itu cerdas?" tanyanya.

"Pandai berpikir." jawabku.

Kakek mengangguk. "Lalu apa itu rajin?"



"Suka bekerja." jawabku lagi.

"Kemarilah." Ia melambaikan tangan agar aku duduk di sisinya. Aku
mendekat dan duduk di kursi di sampingnya. Melihat dari dekat wajah
kakek yang diukir guratan usia tua, dibingkai sepasang mata teduh yang
menyimpan selaksa kebijaksanaan.

"Nah, sekarang katakan, apa yang kau naiki kemarin waktu menuju ke rumah
kakek?"

"Mobil."

"Benar, mobil. Apa yang membuatnya bergerak?"

"Mm... Roda."

"Apakah roda hanya dapat melaju lurus ke depan?"

Aku menggeleng. "Tidak, roda dapat berbelok-belok. "

"Mengapa demikian?"

"Karena ada kemudinya." Jawabku lagi. Masih tak memahami apa hubungan
semua ini dengan pertanyaanku tadi.

Kakek tersenyum.

"'Roda' adalah 'rajin', karena ia selalu bergerak. Itulah kewajibannya,
pekerjaannya, tugas yang harus selalu ia lakukan. 'Kemudi' adalah
'cerdas', karena ialah yang berpikir, menentukan kemana roda harus
berbelok, ke kanan, atau ke kiri."

"Berarti 'cerdas' lebih hebat, karena tanpa kemudi, roda tak dapat
mengerti kemana harus mengarahkan lajunya!" Aku berseru.

"Begitukah? Jika tak ada roda apakah ia akan tetap hebat? Apa jadinya
kemudi tanpa roda, apakah mobil tetap dapat melaju?" Kakek bertanya.

"Berarti... 'rajin' lebih hebat. Walaupun tanpa kemudi, ia masih dapat
melaju." sahutku ragu-ragu.

"Dan membiarkan mobilnya menabrak segala sesuatu, karena tidak mengikuti
alur jalan yang berliku?"

Aku memandang kakek.

"Cucuku... Keduanya tidak akan menjadi hebat, bila berdiri
sendiri-sendiri, terpisah, tanpa mau bergabung. Karena kehebatan itu
hanya muncul bila mereka saling mendukung dan bekerja sama. Kemudi yang
menentukan arahnya, dan roda yang melajukan mobil sesuai tugasnya."

Kakek menatapku, "Kau tahu, apa yang membuat keduanya bekerja bersama?"

Aku menggeleng.

"Pengemudi mobilnya. Yang mengatur kemudi dan roda agar saling mendukung
dan berjalan bersama. Bagaimana laju mobilmu, halus atau kasar, menabrak
atau lancar, tergantung siapa yang duduk di tempat itu." jawab Kakek.

"Ia adalah hatimu." Telunjuknya terarah ke dadaku.

"Yang mengatur lajunya langkahmu. Dengannya kau memilih, apakah hanya
menjadi cerdas, atau hanya menjadi rajin, atau memutuskan mendudukkan
keduanya bersisian dan saling melengkapi satu sama lain.

Secerdas apapun seseorang, sebesar apapun idenya, tak akan berguna tanpa
kerja keras yang mewujudkannya menjadi nyata.

Serajin apapun seseorang, bila itu dilakukan tanpa pemikiran, hasilnya
hanya akan menjadi sia-sia."

Kakek menatapku dengan bijak.

"Jadi, menurutmu, mana yang lebih hebat, menjadi cerdas atau menjadi
rajin?"

"Menjadi keduanya." Kataku mantap, dengan senyum lebar membalas
senyumnya.


Powered by Blogger